Menelisik Kasus Tangsel: Mengapa Anak Fatherless Menjadi Sasaran Utama Predator Child Grooming?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
18 Mei 2026, 11:26 WIB
Menelisik Kasus Tangsel: Mengapa Anak Fatherless Menjadi Sasaran Utama Predator Child Grooming?

SuaraInfo — Kasus memilukan kembali mencoreng institusi pendidikan di Indonesia, kali ini mencuat dari sebuah SMK swasta di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Kabar mengenai dugaan child grooming yang dilakukan oleh seorang mantan kepala sekolah terhadap siswinya sendiri memicu gelombang kemarahan publik. Namun, di balik kemarahan tersebut, terselip sebuah fakta psikologis yang mengkhawatirkan: sang predator diduga secara sengaja mengincar anak-anak dengan latar belakang fatherless atau mereka yang mengalami kekosongan figur ayah di rumah.

Kekosongan ini bukan sekadar urusan administratif keluarga, melainkan sebuah luka emosional yang sering kali tidak terlihat secara kasatmata. Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi para orang tua dan pendidik: mengapa anak-anak yang kurang mendapat perhatian ayah menjadi target yang begitu rentan? Dan bagaimana mekanisme manipulasi emosional ini bekerja hingga mampu menjerat korban dalam waktu yang lama tanpa terdeteksi?

Memahami Kerentanan Psikologis Anak Fatherless

Meskipun tidak semua anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara otomatis akan menjadi korban, para ahli mengingatkan adanya risiko kerentanan yang lebih tinggi. Spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dalam sebuah wawancara mendalam mengungkapkan bahwa kekosongan figur ayah menciptakan sebuah ‘ruang kosong’ dalam jiwa anak. Anak-anak, secara alamiah, membutuhkan pilar keamanan, validasi, dan perlindungan dari kedua orang tuanya.

Baca Juga Menkes Pantau Ketat Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta, Masyarakat Diminta Tetap Tenang Namun Waspada
Menkes Pantau Ketat Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta, Masyarakat Diminta Tetap Tenang Namun Waspada

Ketika pilar ayah ini tidak ada—baik karena perceraian, kematian, maupun ‘ayah yang ada namun tiada’ (father hunger)—anak akan mencari pengakuan tersebut dari sumber lain. Di sinilah letak bahayanya. Predator yang memahami celah psikologis ini akan masuk dan mengisi kekosongan tersebut dengan peran pengganti yang tampak sempurna. Kesehatan mental anak yang sedang mencari identitas menjadi sangat rapuh di hadapan mereka yang menawarkan perhatian semu namun intens.

Taktik Predator: Menjadi ‘Pahlawan’ dalam Kehidupan Korban

Dalam kasus yang terjadi di Tangerang Selatan, pelaku yang merupakan pemegang otoritas di sekolah memiliki posisi tawar yang kuat untuk melakukan manipulasi. Predator child grooming tidak muncul dengan wajah menyeramkan; sebaliknya, mereka sering kali hadir sebagai sosok yang paling pengertian, suportif, dan seolah-olah menjadi satu-satunya orang yang memahami perasaan anak tersebut.

“Ketika kebutuhan emosional dasar tidak terpenuhi di rumah, lalu ada orang dewasa yang hadir dengan pujian yang tulus (padahal manipulatif), bersedia mendengarkan setiap keluh kesah, dan memberikan rasa aman, anak akan dengan mudah memberikan kepercayaan penuh mereka,” ujar dr. Lahargo. Pelaku membangun ketergantungan emosional secara perlahan. Mereka mungkin memberikan hadiah, bantuan tugas sekolah, atau perhatian istimewa yang membuat anak merasa ‘dipilih’ atau ‘spesial’ dibandingkan teman-teman sebayanya.

Baca Juga Rahasia di Balik Menguap: Bukan Sekadar Kantuk, Ilmuwan Temukan Efek Mengejutkan pada Aliran Cairan Otak
Rahasia di Balik Menguap: Bukan Sekadar Kantuk, Ilmuwan Temukan Efek Mengejutkan pada Aliran Cairan Otak

Tahapan Grooming yang Sering Terlewatkan

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kekerasan seksual dalam konteks grooming tidak terjadi secara mendadak. Ada proses panjang yang disebut dengan stages of grooming. Proses ini dimulai dari tahap perkenalan, di mana pelaku mengobservasi dan memilih target yang dianggap paling rapuh. Dalam kasus di Pamulang, status fatherless menjadi kriteria seleksi bagi pelaku untuk mempermudah akses emosionalnya.

Setelah target ditentukan, pelaku akan mulai masuk ke tahap membangun kepercayaan dan isolasi. Mereka akan berusaha menjauhkan anak secara emosional dari keluarga atau teman-teman terdekatnya dengan menanamkan pemikiran bahwa ‘hanya saya yang mengerti kamu’. Jika tahap ini berhasil, pelaku akan mulai memperkenalkan konten atau pembicaraan yang mengarah pada seksualitas, sembari tetap menjaga kedok sebagai sosok pelindung. Inilah yang membuat korban sering kali merasa bingung dan bersalah, bahkan merasa berutang budi kepada pelaku.

Peran Strategis Komunikasi dalam Keluarga

Mencegah tragedi serupa memerlukan langkah konkret dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Pola asuh anak yang mengedepankan kualitas hubungan emosional jauh lebih efektif daripada sekadar pemenuhan materi. Membangun komunikasi yang hangat, terbuka, dan tanpa penghakiman adalah kunci utama agar anak merasa nyaman untuk bercerita tentang apa pun yang mereka alami di luar rumah.

Baca Juga Bukan Sekadar Kopi, Inilah Rahasia Minuman Pagi untuk Umur Panjang Menurut Para Ahli Gizi
Bukan Sekadar Kopi, Inilah Rahasia Minuman Pagi untuk Umur Panjang Menurut Para Ahli Gizi

Anak harus diajarkan mengenai batasan tubuh (body autonomy) dan mengenali relasi yang sehat sejak dini. Mereka perlu tahu bahwa tidak boleh ada orang dewasa, siapa pun itu, yang memiliki rahasia pribadi dengan mereka yang tidak boleh diketahui oleh orang tua. Rasa aman di rumah akan menjadi perisai terkuat bagi anak saat menghadapi manipulasi dari predator di dunia luar.

Waspadai Perubahan Perilaku dan Interaksi Digital

Selain memperkuat ikatan emosional, orang tua juga dituntut untuk peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun. dr. Lahargo menekankan beberapa tanda yang patut diwaspadai, seperti anak yang tiba-tiba menjadi tertutup, menunjukkan ketakutan berlebih pada orang tertentu, atau justru menunjukkan kelekatan yang tidak wajar pada orang dewasa yang bukan anggota keluarga inti. Peningkatan quality time harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat ada masalah.

Di era digital saat ini, ancaman grooming juga berpindah ke ruang-ruang privat di media sosial. Predator sering kali menggunakan akun palsu atau memanfaatkan fitur chat pribadi untuk mendekati anak-anak. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak bukan berarti melanggar privasi, melainkan bentuk perlindungan agar mereka tidak terjebak dalam percakapan yang mengarah pada eksploitasi. Psikologi anak yang haus akan perhatian akan sangat mudah terpancing oleh ‘like’ dan komentar manis dari orang asing di internet.

Baca Juga Fenomena ‘My Little Bolu Ketan’ yang Menghantui Pikiran: Mengapa Lagu Viral Begitu Sulit Hilang dari Ingatan?
Fenomena ‘My Little Bolu Ketan’ yang Menghantui Pikiran: Mengapa Lagu Viral Begitu Sulit Hilang dari Ingatan?

Kesimpulan: Memutus Mata Rantai Predator

Kasus di Tangerang Selatan harus menjadi alarm keras bagi kita semua. Fenomena fatherless di Indonesia bukan hanya masalah sosial, tetapi juga isu keamanan bagi anak-anak kita. Negara, sekolah, dan keluarga harus bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang protektif. Sekolah harus memiliki sistem pelaporan yang aman dan tidak memihak jika ada oknum pendidik yang menyalahgunakan wewenangnya.

Pada akhirnya, anak yang merasa dicintai sepenuhnya di rumah, didengarkan aspirasinya, dan memiliki figur pelindung yang nyata, akan memiliki ketahanan mental yang jauh lebih kuat. Mereka tidak akan mudah mencari validasi di tempat yang salah, dan manipulasi predator akan sulit menembus benteng emosional yang telah dibangun dengan cinta dan keterbukaan di dalam keluarga.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *