Mengenal Runner’s Trot: Strategi Mengatasi Perut Mules yang Kerap Menghantui Pelari di Hari Perlombaan

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
30 Mei 2026, 13:30 WIB
Mengenal Runner's Trot: Strategi Mengatasi Perut Mules yang Kerap Menghantui Pelari di Hari Perlombaan

SuaraInfo — Bayangkan sebuah skenario klasik yang menjadi mimpi buruk bagi setiap pegiat olahraga lari: Anda telah menghabiskan jutaan rupiah untuk biaya pendaftaran slot race yang prestisius, memesan tiket perjalanan dan akomodasi jauh-jauh hari, serta menjalani program latihan endurance yang menguras keringat selama berbulan-bulan. Namun, tepat saat hari pelaksanaan, segala ambisi untuk mencapai Personal Best (PB) mendadak sirna hanya karena urusan perut yang tidak kompromi. Skenario horor berupa rasa mulas yang luar biasa ini bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan sebuah fenomena medis yang nyata.

Banyak pelari pemula, maupun mereka yang sudah berpengalaman, seringkali terjebak dalam dilema antara kebutuhan energi dan kesehatan pencernaan. Fenomena yang secara populer disebut sebagai runner’s trot ini sering kali dianggap memalukan untuk dibicarakan di komunitas olahraga lari, padahal dampaknya bisa sangat krusial terhadap performa seorang atlet di lintasan.

Apa Itu Runner’s Trot? Membedah Sisi Medis di Balik Mulasnya Perut

Dalam diskursus medis, kondisi ini dikenal dengan istilah exercise-induced gastrointestinal distress. Kondisi ini merujuk pada gangguan pencernaan yang dipicu oleh aktivitas fisik intensitas tinggi. Statistik menunjukkan bahwa fenomena menyebalkan ini dialami oleh sekitar 30 hingga 50 persen pelari jarak jauh di seluruh dunia. Angka yang cukup signifikan ini membuktikan bahwa masalah perut saat berlari adalah tantangan kolektif yang membutuhkan pemahaman mendalam.

Baca Juga Layar Kecil yang Mengubah Peradaban: Benarkah Smartphone Menjadi Penyebab Utama Penurunan Angka Kelahiran Global?
Layar Kecil yang Mengubah Peradaban: Benarkah Smartphone Menjadi Penyebab Utama Penurunan Angka Kelahiran Global?

Munculnya rasa ingin buang air besar (BAB) saat sedang beradu cepat di lintasan bukanlah sekadar sugesti atau rasa gugup belaka. Secara fisiologis, saat kita melakukan aktivitas lari maraton atau lari jarak jauh, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah dari sistem pencernaan menuju otot-otot yang sedang bekerja keras, seperti kaki dan paru-paru. Penurunan aliran darah ke usus inilah yang kemudian memicu kontraksi tidak teratur dan menyebabkan rasa mulas atau diare mendadak.

Asupan Makanan: Kunci Utama Menghindari Bencana di Lintasan

Menurut spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, salah satu pemicu utama mengapa pelari mendadak merasa mulas di tengah perlombaan atau bahkan sebelum flag-off adalah pemilihan asupan makanan yang kurang tepat. Dr. Andi, yang juga merupakan seorang pelari aktif, menekankan pentingnya manajemen nutrisi atlet yang disiplin.

“Sebelum perlombaan dimulai, sangat disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan berserat tinggi. Meskipun sayuran mentah, buah berserat tinggi, dan kacang-kacangan sangat baik untuk kesehatan harian, makanan tersebut adalah musuh bagi pelari di hari perlombaan karena sulit dicerna dengan cepat,” ungkap dr. Andi dalam sebuah kesempatan diskusi kesehatan.

Baca Juga Transformasi Unik Mi Instan Menjadi Tempe: Eksperimen Sains Pangan yang Menggugah Rasa dan Nutrisi
Transformasi Unik Mi Instan Menjadi Tempe: Eksperimen Sains Pangan yang Menggugah Rasa dan Nutrisi

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pelari memberikan jeda waktu yang cukup bagi lambung untuk memproses makanan. Makan besar sebaiknya dilakukan 2 hingga 3 jam sebelum waktu start. Makan terlalu dekat dengan waktu mulai hanya akan memberikan beban berlebih pada sistem pencernaan yang sebentar lagi akan mengalami penurunan aliran darah akibat aktivitas fisik.

Bahaya Eksperimen di Hari Perlombaan

Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh pelari adalah mencoba jenis makanan atau suplemen baru tepat di hari perlombaan. Godaan untuk mencoba energy gel merk baru atau minuman isotonik yang dibagikan secara gratis di area expo seringkali berakhir tragis. Prinsip utama dalam persiapan race adalah konsistensi.

“Hanya konsumsi makanan yang sudah pernah dicoba selama masa latihan (training). Race day bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan eksperimen kuliner atau mencoba produk suplemen baru,” tegas dr. Andi. Perut manusia memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap bahan kimia atau jenis gula tertentu yang terdapat dalam produk energi komersial. Jika usus belum terbiasa, respons penolakan berupa mulas dan kram perut hampir pasti terjadi.

Baca Juga Melampaui Tren FOMO: Mengupas Sisi Nutrisi di Balik Lezatnya Ubi Cream Cheese yang Viral
Melampaui Tren FOMO: Mengupas Sisi Nutrisi di Balik Lezatnya Ubi Cream Cheese yang Viral

Strategi Hidrasi dan Penggunaan Energy Gel yang Benar

Tidak hanya apa yang dimakan sebelum start, perilaku saat berada di lintasan juga sangat menentukan. Hidrasi yang berlebihan karena rasa panik seringkali menjadi bumerang. Pelari disarankan untuk mengikuti protokol hidrasi yang sudah dilatih selama sesi long run di akhir pekan.

Bagi pelari yang berkompetisi di iklim tropis seperti Indonesia, keseimbangan elektrolit menjadi aspek yang tidak boleh disepelekan. Kehilangan garam melalui keringat yang berlebih dapat mengganggu keseimbangan cairan dalam usus. Dr. Andi menyarankan penggunaan minuman isotonik yang memiliki komposisi elektrolit seimbang karena cenderung lebih aman bagi perut dibandingkan hanya mengonsumsi air mineral biasa dalam jumlah yang masif secara tiba-tiba di water station.

Penggunaan fueling seperti energy gel juga harus dilakukan dengan bijak. Pastikan Anda hanya menggunakan merk dan varian rasa yang sudah terbukti cocok dengan sistem pencernaan Anda selama berbulan-bulan latihan. Mengonsumsi gel tanpa diiringi asupan air yang cukup juga dapat memicu tekanan osmotik di usus yang berujung pada rasa mulas.

Baca Juga Kisah Transformasi Matthew Bickel: Dari Ancaman Kematian Akibat Obesitas 226 Kg Hingga Menjadi Pelari Ultramaraton
Kisah Transformasi Matthew Bickel: Dari Ancaman Kematian Akibat Obesitas 226 Kg Hingga Menjadi Pelari Ultramaraton

Faktor Psikologis: Antara Gugup dan Performa

Selain faktor fisik dan nutrisi, aspek psikologis juga memegang peranan penting dalam fenomena runner’s trot. Hubungan antara otak dan saluran pencernaan (gut-brain axis) sangatlah erat. Kecemasan menjelang perlombaan dapat merangsang sistem saraf untuk mempercepat pergerakan usus.

Oleh karena itu, menjaga ketenangan pikiran sebelum start adalah bagian dari strategi memenangkan perlombaan. Melakukan teknik pernapasan dalam atau meditasi singkat dapat membantu menenangkan sistem saraf otonom, yang pada gilirannya akan menstabilkan pergerakan usus Anda. Memahami bahwa rasa gugup adalah hal yang wajar dapat membantu Anda mengelola stres tersebut agar tidak bermanifestasi menjadi gangguan pencernaan.

Kesimpulan: Kemenangan Dimulai dari Perut yang Tenang

Pada akhirnya, berlari bukan hanya soal kekuatan otot kaki dan kapasitas paru-paru, melainkan juga tentang bagaimana Anda mampu “berdamai” dengan sistem pencernaan Anda sendiri. Kesuksesan di garis finish adalah akumulasi dari ribuan kilometer latihan dan kecermatan dalam menjaga asupan nutrisi.

Dengan menghindari makanan berserat tinggi menjelang hari-H, menjaga waktu makan yang tepat, menghindari eksperimen produk baru, serta mengelola hidrasi secara proporsional, risiko terkena runner’s trot dapat diminimalisir secara signifikan. Ingatlah bahwa setiap tubuh memiliki karakteristik unik. Apa yang bekerja bagi orang lain belum tentu bekerja bagi Anda. Kenali tubuh Anda, latih pencernaan Anda sebagaimana Anda melatih otot-otot Anda, dan nikmatilah setiap kilometer tanpa gangguan mulas yang mengganggu.

Baca Juga BGN Rancang Klasterisasi Dapur Makan Bergizi Gratis: Skema Insentif Berjenjang dan Tantangan Distribusi Nasional
BGN Rancang Klasterisasi Dapur Makan Bergizi Gratis: Skema Insentif Berjenjang dan Tantangan Distribusi Nasional

Tetaplah konsisten berlatih dan pantau terus perkembangan kesehatan Anda melalui informasi terpercaya di tips kesehatan kami agar setiap perlombaan yang Anda ikuti menjadi momen yang membanggakan, bukan momen yang harus berakhir di toilet umum lintasan lari.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *