Misi Penyelamatan Tuntong Laut: Menjaga Sang Penjaga Pesisir yang Nyaris Punah dari Tanah Sumatra

Dimas Pratama | SuaraInfo
28 Jun 2026, 17:26 WIB
Misi Penyelamatan Tuntong Laut: Menjaga Sang Penjaga Pesisir yang Nyaris Punah dari Tanah Sumatra

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk isu lingkungan global, ada sebuah perjuangan sunyi yang berlangsung di pesisir Sumatra. Ini bukan sekadar cerita tentang hewan melata, melainkan tentang dedikasi manusia dalam menjaga napas terakhir salah satu makhluk paling langka di bumi. Tuntong Laut, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Batagur borneoensis, kini berada di persimpangan jalan antara kepunahan dan keberlangsungan hidup.

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Tuntong Laut masih terdengar asing. Namun, bagi para aktivis lingkungan dan peneliti konservasi satwa, spesies ini adalah permata biodiversitas yang tak ternilai harganya. Ia bukan sekadar kura-kura biasa yang bisa ditemukan di sembarang tempat. Keberadaannya sangat spesifik, unik, dan kini, sayangnya, sangat terancam.

Status Kritis: Satu dari 25 Spesies Paling Langka di Dunia

Data yang dirilis oleh Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition menempatkan Tuntong Laut dalam daftar elite yang menyedihkan: satu dari 25 spesies kura-kura paling langka di dunia. Status ini tidak main-main. Lembaga konservasi internasional, IUCN (International Union for Conservation of Nature), telah menyematkan label Critically Endangered atau Kritis dalam daftar merah mereka. Ini adalah satu tingkat sebelum sebuah spesies dinyatakan punah di alam liar.

Baca Juga Menjelajahi Hutan Kota Babakan Siliwangi: Paru-paru Hijau Bandung dengan Forest Walk Terpanjang di Asia Tenggara
Menjelajahi Hutan Kota Babakan Siliwangi: Paru-paru Hijau Bandung dengan Forest Walk Terpanjang di Asia Tenggara

Di Indonesia, pemerintah tidak tinggal diam melihat ancaman ini. Melalui regulasi ketat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuntong Laut telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi sepenuhnya. Langkah hukum ini diambil untuk memastikan bahwa setiap individu yang tersisa tidak hilang dari peta kekayaan alam nusantara akibat perburuan liar maupun kerusakan habitat alami.

Simbiosis Kehidupan: Tuntong Laut sebagai ‘Petani Alami’ Mangrove

Penyelamatan Tuntong Laut sebenarnya adalah upaya penyelamatan ekosistem pesisir secara keseluruhan. Hubungan antara reptil ini dengan hutan mangrove bukanlah sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah rantai kehidupan yang saling menguntungkan. Tuntong Laut berperan sebagai “petani alami” yang sangat efisien. Mereka gemar memakan buah dari pohon Berembang (Sonneratia caseolaris), yang merupakan tanaman pionir pelindung garis pantai.

Setelah memakan buah tersebut, biji-biji pohon Berembang akan tersebar melalui kotoran Tuntong Laut ke berbagai sudut hutan bakau. Tanpa peran ini, regenerasi hutan mangrove akan terhambat secara signifikan. Lebih jauh lagi, kotoran atau feses dari reptil ini mengandung nutrisi tinggi yang menjadi sumber makanan utama bagi organisme kecil di sungai, seperti udang, kepiting, dan ikan-ikan kecil.

Baca Juga Kekecewaan Wisatawan di Kuningan: Niat Ngopi Estetik Malah Terjebak Gelap Akibat Pemadaman PLN
Kekecewaan Wisatawan di Kuningan: Niat Ngopi Estetik Malah Terjebak Gelap Akibat Pemadaman PLN

Inilah yang sering luput dari perhatian kita: saat populasi ekosistem mangrove terjaga berkat bantuan Tuntong Laut, maka ketersediaan pangan bagi manusia—berupa tangkapan laut yang melimpah—juga akan ikut terjamin. Kehilangan Tuntong Laut berarti goyahnya keseimbangan pangan dan stabilitas ekologi di wilayah pesisir.

Benteng Pertahanan di Suaka Margasatwa Karang Gading

Di Sumatra Utara, harapan hidup bagi Batagur borneoensis kini tertumpu pada pengawasan ketat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara. Fokus utamanya berada di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL). Kawasan seluas kurang lebih 14.827 hektar ini membentang di wilayah Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, menjadi benteng pertahanan terakhir bagi spesies eksotis ini.

Kawasan ini memiliki karakteristik unik dengan pantai-pantai berpasir yang menjadi lokasi favorit Tuntong Laut untuk meletakkan telur-telurnya. Nama-nama tempat seperti Beting Selotong, Beting Tuntong, dan Pantai Sarang Elang kini menjadi area vital yang dijaga siang dan malam. Tim konservasi rutin melakukan patroli senyap, terutama saat musim bertelur tiba, yang biasanya berlangsung pada bulan Desember hingga Januari.

Baca Juga Ketegangan Diplomatik dan Kelesuan Langit: Mengapa Arus Wisata China ke Jepang Merosot Tajam?
Ketegangan Diplomatik dan Kelesuan Langit: Mengapa Arus Wisata China ke Jepang Merosot Tajam?

Tantangan yang dihadapi tim di lapangan sangatlah nyata. Selain ancaman dari predator alami seperti babi hutan dan biawak yang sering mengincar telur-telur tersebut, tangan jahil manusia yang melakukan perburuan liar masih menjadi momok yang menakutkan. Patroli ini bukan hanya tentang menjaga satwa, tetapi tentang mengamankan masa depan ekologi kawasan tersebut.

Tonggak Sejarah di Desa Tapak Kuda

Perjalanan panjang konservasi ini mencatat sebuah momen krusial pada tahun 2017 di Desa Tapak Kuda, Kabupaten Langkat. Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa kesadaran masyarakat adalah kunci utama keberhasilan konservasi. Saat itu, warga desa secara sukarela menyerahkan tujuh butir telur Tuntong Laut yang mereka temukan kepada petugas lapangan.

Mengingat keterbatasan fasilitas saat itu, tim BBKSDA bersama warga berinisiatif membangun kolam penetasan darurat. Hasilnya luar biasa: dari tujuh telur tersebut, enam tukik (anak kura-kura) berhasil menetas dalam waktu sekitar 70 hari. Peristiwa ini bukan sekadar keberhasilan biologis, melainkan tonggak sejarah pertama penyelamatan spesies Tuntong Laut melalui partisipasi aktif masyarakat di Sumatra Utara.

Baca Juga Strategi Cerdas Jakarta: Manfaatkan Momentum Rupiah Melemah untuk Genjot Kunjungan Wisatawan Mancanegara
Strategi Cerdas Jakarta: Manfaatkan Momentum Rupiah Melemah untuk Genjot Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Pelajaran berharga diambil dari kejadian tersebut. Tingkat keselamatan tukik di alam bebas sangatlah rendah jika mereka langsung dilepasliarkan setelah menetas. Oleh karena itu, dikembangkanlah sistem pembesaran eksitu. Di kolam-kolam pembesaran ini, para tukik dirawat secara intensif, diberikan nutrisi yang cukup, dan dipantau kesehatannya hingga mereka mencapai ukuran yang cukup tangguh untuk menghadapi kerasnya alam liar.

Edukasi dan Kesadaran: Mengubah Pemburu Menjadi Penjaga

Kesuksesan di Desa Tapak Kuda memicu gelombang kepedulian yang lebih luas. BBKSDA Sumatra Utara terus melakukan edukasi yang konsisten kepada warga pesisir. Mereka diajak untuk memahami bahwa Tuntong Laut bukanlah musuh atau sekadar komoditas, melainkan tetangga yang harus dilindungi demi keberlangsungan hidup mereka sendiri.

Hingga awal tahun 2025, program ini telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Puluhan ekor Tuntong Laut hasil pembesaran terkontrol maupun serahan sukarela dari warga telah berhasil dilepasliarkan kembali ke rumah aslinya. Suasana haru seringkali menyelimuti proses pelepasan ini, menandakan adanya ikatan emosional baru antara manusia dan alam.

Baca Juga Spirit Airlines Berhenti Terbang: Kisah Tragis di Balik Tumbangnya Sang Pionir Maskapai Berbiaya Rendah
Spirit Airlines Berhenti Terbang: Kisah Tragis di Balik Tumbangnya Sang Pionir Maskapai Berbiaya Rendah

Saat ini, puluhan individu lainnya masih berada di kolam pembesaran, menjalani masa persiapan sebelum menyusul rekan-rekan mereka kembali ke hutan bakau. Program rehabilitasi ini terus ditingkatkan kualitasnya, baik dari segi fasilitas maupun metodologi ilmiah yang digunakan, guna memastikan setiap individu yang dilepas memiliki peluang hidup yang tinggi.

Menjaga Masa Depan di Bawah Bayang-bayang Ancaman

Meskipun kemajuan telah dicapai, perjuangan melestarikan Tuntong Laut masih jauh dari kata selesai. Ancaman degradasi lahan, konversi hutan mangrove menjadi area perkebunan, hingga pencemaran air sungai tetap menjadi tantangan besar. Tuntong Laut adalah indikator kesehatan lingkungan; jika mereka bisa bertahan hidup dan berkembang biak, itu tandanya ekosistem pesisir kita masih dalam kondisi baik.

Melestarikan Tuntong Laut adalah urusan merawat masa depan. Ini adalah janji kita kepada generasi mendatang bahwa mereka masih bisa melihat keajaiban alam ini secara langsung, bukan hanya melalui foto atau video di buku sejarah. Keberadaan satwa mungil penjaga ekosistem pesisir ini sepenuhnya bergantung pada komitmen kolektif kita untuk menjaga rumah mereka tetap aman, bersih, dan lestari.

Mari kita dukung setiap upaya pelestarian alam yang dilakukan oleh berbagai pihak. Sebab, pada akhirnya, menjaga alam adalah cara terbaik bagi manusia untuk menjaga dirinya sendiri. Tuntong Laut telah memberikan banyak bagi keseimbangan pesisir kita, dan sekarang saatnya kita memberikan ruang bagi mereka untuk terus hidup dan berkembang.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *