Strategi Jitu Menjaga Kesehatan Mental Gen Z: Seni Journaling dan Kekuatan Napas ala Tsamara Fahrana

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
09 Mei 2026, 07:27 WIB
Strategi Jitu Menjaga Kesehatan Mental Gen Z: Seni Journaling dan Kekuatan Napas ala Tsamara Fahrana

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan tekanan target pekerjaan yang kian intens, menjaga kesehatan mental seolah menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Fenomena burnout dan kecemasan berlebih kini bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan realitas yang dihadapi banyak Gen Z setiap harinya. Namun, pertanyaannya adalah: bagaimana cara kita tetap bisa menemukan ketenangan di tengah badai aktivitas yang tak kunjung reda?

Kesehatan jiwa yang stabil bukan didapatkan secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam mengenali diri sendiri. Dalam sebuah kesempatan di Surakarta, Jawa Tengah, pakar meditasi dan guru yoga kenamaan, Tsamara Fahrana, membagikan rahasia sederhana namun sangat efektif untuk membantu siapa pun mendapatkan kembali kendali atas pikiran mereka. Melalui metode yang memadukan ekspresi tertulis dan teknik fisik, setiap individu memiliki peluang untuk menciptakan ruang damai di dalam diri mereka sendiri.

Fenomena Burnout dan Urgensi Kesehatan Mental bagi Gen Z

Bagi sebagian besar anak muda, tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial serta tuntutan profesional yang tinggi seringkali menjadi pemicu utama stres. Tanpa adanya manajemen stres yang baik, kelelahan mental ini bisa berdampak pada penurunan produktivitas hingga gangguan kesehatan fisik yang lebih serius. SuaraInfo merangkum bahwa langkah awal untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyadari bahwa otak kita membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memproses emosi yang menumpuk.

Baca Juga Pinggang Sakit Saat Mau Tidur? Jangan Panik, Kenali Beda Overuse Otot dan Saraf Kejepit Menurut Ahli
Pinggang Sakit Saat Mau Tidur? Jangan Panik, Kenali Beda Overuse Otot dan Saraf Kejepit Menurut Ahli

Tsamara Fahrana menekankan bahwa ketenangan jiwa bukanlah sesuatu yang harus dicari jauh ke luar sana, melainkan sesuatu yang bisa dibangun dari kebiasaan harian yang kecil namun konsisten. Dua pilar utama yang ia sarankan adalah praktik journaling dan penguasaan teknik pernapasan yang tepat. Kedua hal ini dianggap sebagai instrumen paling organik untuk meregulasi emosi tanpa perlu peralatan yang mahal.

Journaling: Menata Benang Kusut dalam Pikiran

Salah satu cara paling ampuh untuk meredakan kecemasan adalah dengan menumpahkan segala isi kepala ke atas kertas. Teknik ini dikenal dengan istilah journaling. Menurut Tsamara, journaling bukan sekadar menulis buku harian biasa, melainkan sebuah proses untuk merapikan pikiran, mengelola emosi yang meluap, serta meningkatkan kesadaran diri (self-awareness).

“Tujuannya journaling adalah mengetahui apa yang kita rasakan. Kita jadi melatih apa sih yang mau kita tanamkan dalam pikiran kita, sekaligus melepaskan hal-hal yang selama ini memberatkan beban mental,” ungkap Tsamara dalam acara temu media bersama Aqua di Surakarta beberapa waktu lalu. Dengan menulis, seseorang dipaksa untuk melambat dan melihat masalah dari perspektif yang lebih objektif.

Baca Juga Efisiensi Strategis Badan Gizi Nasional: Jeda Program Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah Hemat Anggaran Rp 3 Triliun
Efisiensi Strategis Badan Gizi Nasional: Jeda Program Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah Hemat Anggaran Rp 3 Triliun

Bagi mereka yang baru ingin memulai, SuaraInfo menyarankan untuk tidak terlalu terbebani dengan tata bahasa atau estetika tulisan. Cukup tuliskan apa yang dirasakan saat itu juga. Proses “brain dump” ini efektif untuk mengosongkan beban emosional yang seringkali membuat kita sulit tidur atau merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

Kekuatan Napas: Remote Control untuk Sistem Saraf

Selain journaling, aspek fisik yang seringkali dilupakan adalah cara kita bernapas. Pernahkah Anda menyadari bahwa saat merasa cemas, napas kita cenderung pendek dan cepat? Hal ini terjadi karena tubuh berada dalam mode bertahan hidup (fight or flight). Tsamara Fahrana menjelaskan bahwa dengan melatih teknik pernapasan atau olah napas, kita sebenarnya sedang melakukan regulasi tubuh secara langsung.

Napas yang ditarik dan dihembuskan secara panjang serta dalam dapat mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh dalam keadaan aman. Hal ini secara otomatis akan menurunkan detak jantung dan merelaksasi otot-otot yang tegang. Tsamara menyebutkan bahwa olah napas ini bisa “membangunkan” tubuh agar lebih berenergi atau justru menenangkannya agar lebih rileks, tergantung pada teknik yang digunakan.

Baca Juga Awas Ancaman Hantavirus! Kenali Cara Paling Aman Membersihkan Kotoran Tikus agar Tidak Salah Langkah
Awas Ancaman Hantavirus! Kenali Cara Paling Aman Membersihkan Kotoran Tikus agar Tidak Salah Langkah

Rahasia Lubang Hidung Kanan dan Kiri dalam Yoga

Dalam ilmu yoga, pernapasan bukan hanya soal oksigen, tetapi juga soal aliran energi atau prana. Tsamara membagikan sebuah teknik unik yang melibatkan penggunaan lubang hidung yang berbeda untuk mencapai tujuan mental yang berbeda pula. Teknik ini sangat praktis dan bisa dilakukan di mana saja, bahkan di meja kantor saat Anda merasa sedang kewalahan.

“Jika Anda merasa sangat tegang dan butuh rileks, cobalah bernapas melalui lubang hidung kiri dengan menutup lubang hidung kanan. Ini akan mengaktifkan saraf parasimpatis yang membantu tubuh menjadi lebih tenang,” jelasnya. Sebaliknya, jika Anda merasa tidak bersemangat atau mengantuk di tengah pekerjaan, Tsamara menyarankan untuk menutup lubang hidung kiri dan bernapas hanya dari lubang hidung kanan. Teknik ini dianggap lebih energizing dan mampu meningkatkan fokus dengan cepat.

Membangun Kesejahteraan Holistik

Selain teknik pernapasan dan menulis, menjaga kesehatan jiwa juga berkaitan erat dengan bagaimana kita memperlakukan tubuh kita secara keseluruhan. Hidrasi yang cukup, konsumsi makanan bergizi, hingga aktivitas fisik seperti yoga membantu menciptakan harmoni antara pikiran dan tubuh. Kesehatan holistik adalah kunci agar Gen Z tidak mudah terombang-ambing oleh tantangan zaman.

Baca Juga Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker
Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker

Tsamara Fahrana juga mengingatkan pentingnya untuk terkoneksi kembali dengan alam dan lingkungan sekitar. Dalam kunjungannya ke Boyolali misalnya, ia menyoroti bagaimana lingkungan yang asri dapat membantu mempercepat proses pemulihan mental. Terkadang, kita hanya perlu sejenak menjauh dari layar gawai untuk menghirup udara segar dan merasakan keberadaan kita di saat ini (mindfulness).

Kesimpulan: Ketenangan Adalah Pilihan

Pada akhirnya, memiliki jiwa yang tenang adalah sebuah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai kesehatan mental yang paripurna, namun dengan bantuan alat seperti journaling dan penguasaan napas, perjalanan tersebut menjadi jauh lebih ringan. Bagi para Gen Z, mulailah dengan langkah kecil hari ini. Sisihkan waktu lima hingga sepuluh menit untuk menulis atau sekadar duduk diam dan mengatur napas.

Ingatlah bahwa stres adalah bagian dari kehidupan, namun bagaimana kita meresponsnya adalah yang menentukan kualitas hidup kita. Seperti yang dipraktikkan oleh para praktisi yoga profesional, ketenangan bukan berarti hilangnya kebisingan di luar, melainkan kemampuan untuk tetap tenang di tengah kebisingan tersebut. Tetaplah jaga kesehatan mental Anda, karena jiwa yang sehat adalah modal utama untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Baca Juga Potret Kelam Dokter Internship Indonesia: Antara Pengabdian, Eksploitasi, dan Ancaman Burnout Massal
Potret Kelam Dokter Internship Indonesia: Antara Pengabdian, Eksploitasi, dan Ancaman Burnout Massal
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *