Wae Rebo Ditutup Sementara: Jalur Trekking Tertutup Longsor, Akses Menuju ‘Surga di Atas Awan’ Terputus

Dimas Pratama | SuaraInfo
16 Mei 2026, 21:27 WIB
Wae Rebo Ditutup Sementara: Jalur Trekking Tertutup Longsor, Akses Menuju 'Surga di Atas Awan' Terputus

SuaraInfo — Kabar kurang menyenangkan datang dari jantung Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Destinasi ikonik yang dikenal sebagai ‘Surga di Atas Awan’, Desa Wisata Wae Rebo, terpaksa harus menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu. Keputusan pahit ini diambil setelah jalur trekking utama yang menjadi satu-satunya akses jalan kaki menuju desa adat tersebut tertimbun material tanah longsor yang cukup parah.

Kondisi alam yang ekstrem di wilayah pegunungan Manggarai menjadi faktor utama di balik peristiwa ini. Intensitas hujan yang sangat tinggi selama beberapa hari terakhir mengakibatkan stabilitas tanah di lereng perbukitan goyah, hingga akhirnya menutupi akses yang biasa dilalui oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara. Penutupan ini dilakukan sebagai langkah preventif demi menjamin keselamatan nyawa para pengunjung.

Kronologi dan Penyebab Terputusnya Akses Jalur Trekking

Bencana longsor yang melumpuhkan jalur menuju Wae Rebo ini terjadi menyusul cuaca buruk yang melanda sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan informasi yang dihimpun, material longsoran berasal dari area perkebunan warga yang terletak di tebing bagian atas jalur pendakian. Bongkahan tanah dan bebatuan turun menutupi jalan setapak yang menjadi urat nadi pariwisata di sana.

Baca Juga Demi Gengsi dan Sejarah, Thomas Tuchel Minta Orang Tua Inggris ‘Relakan’ Anak-anak Begadang Nonton Piala Dunia 2026
Demi Gengsi dan Sejarah, Thomas Tuchel Minta Orang Tua Inggris ‘Relakan’ Anak-anak Begadang Nonton Piala Dunia 2026

Obhy Dermawan, salah seorang pekerja pariwisata yang bertugas di kawasan Wae Rebo, mengonfirmasi bahwa titik longsor berada di area strategis sebelum memasuki pos rumah kentongan. Lokasi ini merupakan salah satu titik yang cukup terjal dan sering kali menjadi area istirahat bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke inti desa adat.

“Penutupan ini murni karena faktor alam. Hujan turun nyaris tanpa henti dalam beberapa hari terakhir, yang memicu tanah longsor dari arah perkebunan warga. Saat ini jalur benar-benar tertutup dan sangat berisiko jika dipaksakan untuk dilalui,” ujar Obhy dalam keterangannya pada Sabtu (16/5/2026).

Keselamatan Wisatawan Menjadi Prioritas Utama

Pihak pengelola dan masyarakat adat setempat tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Mengingat medan menuju Wae Rebo yang berupa hutan tropis dengan kemiringan yang cukup ekstrem, potensi adanya longsor susulan masih sangat besar jika hujan terus mengguyur. Oleh karena itu, kebijakan untuk menutup sementara desa wisata ini dianggap sebagai keputusan yang paling bijaksana.

Baca Juga Tragedi di Lereng Batukaru: Hilang Dua Pekan, Pendaki Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Kedalaman Jurang 93 Meter
Tragedi di Lereng Batukaru: Hilang Dua Pekan, Pendaki Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Kedalaman Jurang 93 Meter

“Kami sangat khawatir akan adanya longsor susulan. Keamanan wisatawan adalah prioritas kami yang paling utama. Lebih baik ditutup sementara hingga situasi benar-benar kondusif dan jalur sudah berhasil dibersihkan dari material longsor,” tambah Obhy. Pengumuman ini juga menjadi peringatan bagi agen perjalanan dan pemandu wisata untuk mengalihkan jadwal kunjungan tamu mereka demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengenal Wae Rebo: Pesona Tersembunyi di Ketinggian 1.000 MDPL

Bagi Anda yang belum familiar, Wae Rebo bukanlah sekadar desa biasa. Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini merupakan salah satu warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO. Pesona utamanya terletak pada tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang. Arsitektur rumah ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Manggarai yang harmonis dengan alam dan leluhur.

Perjalanan menuju Wae Rebo sendiri biasanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 3 jam dengan berjalan kaki (trekking) dari Desa Denge. Selama perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan hujan tropis yang asri, kicauan burung endemik, serta udara pegunungan yang sangat segar. Namun, keindahan tersebut kini harus ‘beristirahat’ sejenak akibat bencana alam yang menutup aksesnya.

Baca Juga Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit
Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit

Dampak Penutupan Terhadap Sektor Pariwisata Lokal

Penutupan sementara ini tentu membawa dampak signifikan bagi ekosistem pariwisata di Manggarai. Wae Rebo merupakan magnet utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Flores selain Labuan Bajo. Banyak masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini, mulai dari porter, pemandu wisata, hingga penyedia akomodasi di desa transit seperti Denge.

Namun, masyarakat setempat menyadari bahwa menjaga integritas lingkungan dan keselamatan pengunjung jauh lebih penting daripada keuntungan ekonomi jangka pendek. Gotong royong untuk membersihkan jalur biasanya akan dilakukan setelah cuaca mulai stabil, namun proses ini membutuhkan waktu karena medan yang sulit dijangkau oleh alat berat.

Imbauan bagi Calon Wisatawan dan Travel Agent

Bagi para pelancong yang telah merencanakan perjalanan menuju Wae Rebo dalam waktu dekat, sangat disarankan untuk terus memantau informasi terkini dari otoritas setempat atau agen perjalanan terpercaya. Mengingat cuaca di wilayah pegunungan Manggarai bisa berubah sewaktu-waktu, kesiapan fisik dan peralatan yang memadai tetap menjadi kewajiban utama saat jalur nantinya dibuka kembali.

Baca Juga Masa Depan Bandara Husein dan Adisutjipto: Analisis Mendalam Mengenai Dilema Reaktivasi Pintu Langit Daerah
Masa Depan Bandara Husein dan Adisutjipto: Analisis Mendalam Mengenai Dilema Reaktivasi Pintu Langit Daerah

Para wisatawan juga diingatkan untuk selalu menghormati adat istiadat dan aturan yang berlaku di Wae Rebo. Keramahtamahan warga lokal yang menyambut tamu dengan upacara adat Waelu adalah momen yang paling dirindukan oleh setiap orang yang berkunjung ke sana. Mari kita berdoa agar kondisi cuaca segera membaik dan jalur trekking Wae Rebo bisa segera dibersihkan agar ‘surga’ ini bisa kembali dinikmati oleh dunia.

Tips Menghadapi Musim Hujan Saat Berwisata di NTT

Kejadian di Wae Rebo ini menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang betapa dinamisnya alam di Nusa Tenggara Timur. Jika Anda berencana melakukan perjalanan ke wilayah pegunungan di musim hujan, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

  • Selalu periksa prakiraan cuaca dari BMKG sebelum memulai perjalanan trekking.
  • Gunakan alas kaki atau sepatu pendakian yang memiliki daya cengkeram (grip) kuat untuk medan licin.
  • Siapkan jas hujan berkualitas dan pelindung tas (raincover) untuk menjaga perlengkapan tetap kering.
  • Jangan memaksakan diri untuk melintas jika melihat tanda-tanda tanah yang tidak stabil atau aliran air yang sangat deras di lereng.
  • Selalu gunakan jasa pemandu lokal yang memahami karakteristik medan dan perubahan cuaca setempat.

Semoga akses menuju Desa Wae Rebo dapat segera pulih, sehingga keunikan budaya Mbaru Niang dan kehangatan kopi khas Manggarai di atas awan dapat kembali menyapa para petualang dari seluruh penjuru dunia.

Baca Juga Menelisik Misteri Sumur Puter Kudus: Karomah Sunan Kudus yang Konon Bisa Mengembalikan yang Hilang
Menelisik Misteri Sumur Puter Kudus: Karomah Sunan Kudus yang Konon Bisa Mengembalikan yang Hilang
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *