Mengapa Daging Kurban Sering Terasa Alot? Simak Penjelasan Ilmiah dan Tips Mengolahnya Agar Empuk

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
27 Mei 2026, 09:27 WIB
Mengapa Daging Kurban Sering Terasa Alot? Simak Penjelasan Ilmiah dan Tips Mengolahnya Agar Empuk

SuaraInfo — Setiap momen perayaan Hari Raya Idul Adha tiba, masyarakat Indonesia selalu antusias menyambut pembagian daging hewan kurban. Namun, ada satu keluhan klasik yang hampir selalu muncul di meja makan: tekstur daging kurban yang terasa jauh lebih keras atau alot dibandingkan dengan daging yang biasa dibeli di supermarket atau swalayan. Fenomena gigi pegal saat menyantap rendang atau sate kurban seolah sudah menjadi tradisi tahunan yang tak terelakkan.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah ada perbedaan kualitas antara hewan kurban dengan sapi atau kambing komersial? Ternyata, jawabannya bukan pada kualitas hewannya semata, melainkan pada serangkaian proses biologis dan teknis yang terjadi sesaat sebelum dan sesudah penyembelihan. Pakar pangan dari IPB University memberikan kupasan tuntas mengenai alasan ilmiah di balik tekstur daging yang ‘melawan’ ini.

Rahasia di Balik Tekstur Daging Kurban yang Alot

Guru Besar Teknologi Pangan IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc., mengungkapkan bahwa penyebab utama daging kurban cenderung keras adalah kombinasi antara faktor psikologis hewan dan manajemen pasca-penyembelihan yang terburu-buru. Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, beliau menjelaskan bahwa fenomena ini berakar pada kondisi biologis otot hewan yang mengalami kontraksi hebat.

Baca Juga Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker
Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker

Salah satu pemicu yang paling signifikan adalah absennya proses pelayuan atau aging. Jika Anda terbiasa membeli daging di daging premium swalayan, daging tersebut biasanya telah melewati masa istirahat di ruang pendingin terkontrol selama minimal 24 jam. Sebaliknya, daging kurban memiliki jalur distribusi yang sangat cepat: dipotong, dicacah, dibungkus, dan langsung dimasak pada hari yang sama.

Dampak Stres Pre-Slaughter terhadap Kualitas Serat Otot

Aspek yang sering kali luput dari perhatian panitia kurban adalah tingkat stres hewan sebelum disembelih (pre-slaughter stress). Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Meat Science, hewan ruminansia seperti sapi dan kambing memiliki mekanisme pertahanan tubuh yang sangat sensitif terhadap ancaman.

Ketika seekor sapi melihat pisau yang diasah di depannya, atau melihat temannya disembelih dalam jarak dekat, tubuh hewan tersebut akan memicu reaksi stres yang hebat. Kondisi ini menyebabkan cadangan glikogen atau energi cadangan di dalam otot terkuras habis dalam sekejap. Padahal, glikogen sangat dibutuhkan untuk menghasilkan asam laktat setelah kematian hewan.

Baca Juga Rahasia Medis Benjamin Netanyahu: Perjalanan Sembunyi-sembunyi Melawan Kanker Prostat dan Pentingnya Deteksi Dini
Rahasia Medis Benjamin Netanyahu: Perjalanan Sembunyi-sembunyi Melawan Kanker Prostat dan Pentingnya Deteksi Dini

Tanpa asam laktat yang cukup, tingkat keasaman (pH) daging tidak akan turun ke level optimal. Akibatnya, serat otot akan mengalami kontraksi maksimal, menciptakan tekstur yang kering, kaku, dan tentu saja alot saat digigit. Inilah mengapa edukasi mengenai kesejahteraan hewan sangat krusial dalam proses ibadah kurban agar kualitas daging yang dihasilkan tetap prima.

Mengenal Fenomena Rigor Mortis pada Daging

Secara ilmiah, setiap makhluk hidup yang baru saja mati akan melewati fase yang disebut rigor mortis. Ini adalah kondisi di mana otot-otot tubuh menjadi kaku akibat perubahan kimiawi di tingkat seluler. Pada hewan kurban, fase ini sering kali bertepatan dengan waktu saat daging sampai ke tangan masyarakat dan langsung masuk ke penggorengan atau panci.

Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa pada rumah potong hewan modern, daging biasanya digantung di ruangan dingin bersuhu sekitar 0-4 derajat Celsius. Selama 24 hingga 48 jam, enzim alami dalam daging akan bekerja memecah protein yang kaku tersebut. Proses pemecahan alami ini secara bertahap akan melunakkan serat daging dan mengembangkan aroma serta rasa yang lebih gurih.

Baca Juga Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat
Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat

“Daging kurban itu setelah dipotong biasanya langsung didistribusikan. Fase kekakuan otot ini belum sempat terlewati namun sudah terburu-buru dimasak. Faktor inilah yang membuat strukturnya menjadi sangat padat dan sulit dikunyah,” ujar Prof. Purwiyatno kepada tim SuaraInfo.

Strategi Menjinakkan Daging Alot di Dapur Rumah

Bagi Anda yang sudah menerima pembagian daging kurban, jangan berkecil hati. Meskipun daging tersebut berada dalam fase kaku, ada beberapa tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membantu otot-otot daging tersebut ‘rileks’ sebelum diolah menjadi masakan nusantara yang lezat:

  • Jangan Langsung Dimasak: Berikan waktu jeda. Jika memungkinkan, simpan daging dalam wadah bersih dan letakkan di suhu ruang yang sejuk atau di dalam lemari es bagian bawah selama beberapa jam sebelum dimasak.
  • Teknik Pengempukan Alami: Anda bisa menggunakan enzim papain dari daun pepaya atau bromelain dari buah nanas. Cukup remas-remas daging dengan daun pepaya atau lumuri dengan parutan nanas selama 15-30 menit. Enzim ini akan membantu memecah kolagen pada daging.
  • Perhatikan Teknik Memotong: Selalu potong daging melawan arah serat. Cara memotong yang salah akan membuat serat daging tetap panjang dan sulit hancur saat dikunyah, meskipun sudah dimasak lama.
  • Gunakan Metode Slow Cooking: Memasak dengan api kecil dalam waktu yang lama (seperti membuat rendang) adalah cara terbaik untuk melunakkan daging yang memiliki karakteristik alot akibat rigor mortis.

Keamanan Pangan Tetap yang Utama

Meskipun tekstur yang empuk sangat diinginkan, Prof. Purwiyatno menekankan bahwa aspek keamanan pangan (food safety) dan kebersihan jauh lebih penting daripada sekadar keempukan. Dalam proses distribusi massal saat Idul Adha, risiko kontaminasi bakteri cukup tinggi karena banyaknya tangan yang menyentuh daging serta lingkungan pemotongan yang terkadang kurang steril.

Baca Juga Misteri Berat Badan: Mengapa Makan Sedikit Tetap Cepat Gemuk? Ini Tinjauan Medis Lengkapnya
Misteri Berat Badan: Mengapa Makan Sedikit Tetap Cepat Gemuk? Ini Tinjauan Medis Lengkapnya

“Kalau kualitas keempukannya berkurang sedikit tidak apa-apa, yang penting dagingnya bersih dan sehat. Kebiasaan masyarakat kita di Indonesia yang memasak daging secara over cooking atau dipanaskan berkali-kali sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri dari sisi keamanan, karena bakteri jahat pasti mati dalam suhu tinggi,” tambahnya.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencuci tangan dengan bersih sebelum mengolah daging dan memastikan peralatan masak tidak tercampur antara yang mentah dan yang matang. Jika Anda mendapati daging yang berbau sangat menyengat atau berubah warna menjadi kehijauan, sebaiknya jangan dikonsumsi demi menghindari risiko keracunan.

Kesimpulan: Menikmati Kurban dengan Bijak

Memahami bahwa daging kurban memiliki karakteristik unik karena faktor stres dan absennya proses pelayuan membuat kita lebih bijak dalam mengolahnya. Dengan teknik penanganan yang tepat, daging yang awalnya ‘alot’ tetap bisa disulap menjadi hidangan istimewa yang menggugah selera untuk dinikmati bersama keluarga.

Idul Adha bukan hanya soal menyantap hidangan lezat, tetapi juga tentang berbagi keberkahan. Dengan pengetahuan tentang tips kesehatan dan cara mengolah daging yang benar, kita dapat merayakan hari raya dengan perut kenyang dan tubuh yang tetap sehat. Pastikan Anda tetap mengimbangi konsumsi daging dengan asupan sayuran dan buah-buahan untuk menjaga keseimbangan kolesterol dalam tubuh.

Baca Juga Tes Kejelian Mata: Seberapa Cepat Anda Bisa Menghitung Semua Hewan dalam Tantangan Visual Ini?
Tes Kejelian Mata: Seberapa Cepat Anda Bisa Menghitung Semua Hewan dalam Tantangan Visual Ini?
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *