Menguak Rahasia Jamu: Mengapa Tidak Semua Ramuan Herbal Bisa Menyandang Gelar Warisan Budaya?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
19 Jun 2026, 11:28 WIB
Menguak Rahasia Jamu: Mengapa Tidak Semua Ramuan Herbal Bisa Menyandang Gelar Warisan Budaya?

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi medis, Indonesia tetap teguh menjaga salah satu pusaka paling berharga yang telah diakui dunia: Jamu. Lebih dari sekadar minuman kesehatan, jamu adalah representasi dari kearifan lokal yang telah menyatu dalam denyut nadi kehidupan masyarakat nusantara. Namun, di era di mana tren gaya hidup sehat berbasis alam atau back to nature semakin menjamur, muncul sebuah kesalahpahaman umum di tengah publik. Banyak yang menganggap bahwa semua ramuan yang berbahan dasar tanaman otomatis bisa disebut sebagai jamu. Nyatanya, dunia farmakologi dan regulasi kesehatan memiliki batasan yang tegas mengenai hal ini.

Akar Sejarah dan Pengakuan Dunia terhadap Jamu Indonesia

Jamu bukan sekadar tren sesaat. Pada akhir tahun 2023, UNESCO secara resmi menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Pengakuan ini bukan tanpa alasan. Jamu dianggap sebagai sistem kesehatan tradisional yang komprehensif, mencakup aspek pencegahan hingga pemulihan. Bagi masyarakat Indonesia, jamu adalah simbol harmoni antara manusia dan alam. Pengetahuan ini diturunkan lintas generasi, menjadi bagian dari identitas bangsa yang unik di mata internasional.

Baca Juga Waspada Maut dalam Kemasan: BPOM Bongkar Peredaran Obat Batuk Palsu Codrela dan Trivam yang Mengancam Nyawa
Waspada Maut dalam Kemasan: BPOM Bongkar Peredaran Obat Batuk Palsu Codrela dan Trivam yang Mengancam Nyawa

Sebagai sumber informasi terpercaya, SuaraInfo mencatat bahwa jamu kini telah memiliki payung hukum yang lebih kuat melalui Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. Dalam regulasi tersebut, jamu dikategorikan sebagai bagian dari obat bahan alami. Namun, perlu dipahami bahwa klasifikasi obat tradisional di Indonesia tidaklah tunggal. Ada hierarki dan standar tertentu yang harus dipenuhi sebelum sebuah produk herbal bisa dilabeli dengan nama-nama tertentu sesuai standar kesehatan nasional.

Membedah Regulasi: Klasifikasi Obat Bahan Alam di Indonesia

Menurut Dr. dr. Inggrid Tania, M.Si., Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), terdapat pembagian yang jelas dalam kelompok obat berbahan alam. Dalam sebuah diskusi yang dipantau oleh tim redaksi, beliau menjelaskan bahwa pemerintah membagi kategori ini menjadi empat golongan besar. Pemahaman ini sangat krusial bagi konsumen agar tidak terjebak pada klaim sepihak dari produsen nakal.

  • Jamu: Ramuan tradisional yang khasiatnya dibuktikan secara empiris atau berdasarkan pengalaman turun-temurun selama puluhan hingga ratusan tahun.
  • Obat Herbal Terstandar (OHT): Produk yang telah melalui uji praklinis (pada hewan) dan bahan bakunya telah distandarisasi.
  • Fitofarmaka: Kasta tertinggi obat herbal yang telah melalui uji klinis pada manusia, sehingga efikasinya setara dengan obat modern.
  • Obat Bahan Alam Lainnya: Kategori baru yang mencakup inovasi produk herbal yang belum masuk ke tiga kategori di atas namun memiliki basis ilmiah yang jelas.

Dengan adanya pengklasifikasian ini, masyarakat diharapkan lebih kritis dalam memilih produk kesehatan tradisional. Jangan sampai sebuah ramuan yang baru saja diracik kemarin sore tanpa dasar sejarah yang kuat, langsung diklaim sebagai jamu legendaris.

Baca Juga Tragedi dr. Myta: MGBKI Bongkar Praktik Victim Blaming dan Intimidasi di Balik Kematian Dokter Internship
Tragedi dr. Myta: MGBKI Bongkar Praktik Victim Blaming dan Intimidasi di Balik Kematian Dokter Internship

Syarat Mutlak Disebut Jamu: Bukan Sekadar Campuran Tanaman

Dr. Inggrid menegaskan bahwa kata kunci utama dari jamu adalah “riwayat tradisional”. Sebuah ramuan herbal baru bisa menyandang gelar jamu jika ia memiliki rekam jejak penggunaan yang panjang. Artinya, ramuan tersebut telah dikonsumsi oleh jutaan orang sejak zaman nenek moyang dan terbukti memberikan efek positif bagi kesehatan tanpa menimbulkan efek samping yang membahayakan dalam penggunaan jangka panjang.

“Jamu adalah ramuan turun-temurun yang sudah terbukti secara empiris. Ini adalah warisan yang didokumentasikan dengan sangat baik oleh bangsa kita,” ungkap Dr. Inggrid. Menariknya, dokumentasi jamu di Indonesia tidak hanya berupa catatan medis formal atau naskah kuno seperti Serat Centhini. Banyak resep jamu yang diwariskan melalui tradisi lisan, dongeng, bahkan melalui tembang atau lagu daerah. Pendekatan naratif inilah yang membuat jamu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakatnya.

Antara Tradisi dan Bukti Ilmiah: Kekuatan Riset Etnofarmakologi

Meskipun berbasis tradisi, bukan berarti jamu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Saat ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan riset etnofarmakologi dan etnobotani untuk memvalidasi khasiat yang selama ini hanya berdasarkan testimoni lisan. Riset ini bertujuan untuk melihat kecocokan antara penggunaan tradisional dengan kandungan zat aktif dalam tanaman tersebut. Misalnya, penggunaan kunyit asam untuk meredakan nyeri haid yang kini sudah banyak divalidasi oleh studi kedokteran modern.

Baca Juga Rahasia di Balik Suara Emas: Olivia Rodrigo Ungkap Perjuangan Hidup dengan Kondisi Tuli Sebelah Sejak Kecil
Rahasia di Balik Suara Emas: Olivia Rodrigo Ungkap Perjuangan Hidup dengan Kondisi Tuli Sebelah Sejak Kecil

Keamanan jamu didasarkan pada dokumentasi pemakaian yang konsisten selama puluhan hingga ratusan tahun. Namun, Dr. Inggrid memberikan catatan penting: keamanan ini hanya terjamin jika cara meramu, dosis, dan pemilihan bahannya sesuai dengan pakem tradisional yang benar. Jika seseorang mencoba bereksperimen mencampur berbagai tanaman obat tanpa pengetahuan yang mumpuni, hasilnya bukanlah jamu yang menyehatkan, melainkan potensi racun bagi tubuh.

Mitos “Alami Pasti Aman” yang Harus Diwaspadai

Salah satu tantangan terbesar jurnalisme kesehatan saat ini adalah meluruskan persepsi bahwa segala sesuatu yang berasal dari alam pasti aman dikonsumsi. Dr. Inggrid secara tegas menepis anggapan tersebut. “Jadi, bukan berarti segala yang alami itu pasti aman,” tegasnya. Keamanan sebuah ramuan herbal sangat bergantung pada beberapa faktor krusial yang sering kali diabaikan oleh masyarakat awam.

Pertama, identifikasi tanaman harus akurat. Banyak tanaman memiliki rupa yang mirip namun kandungan kimianya berbeda jauh. Kedua, proses produksi harus higienis. Penggunaan alat-alat yang terkontaminasi atau cara pengolahan yang salah dapat merusak zat aktif dalam tanaman. Ketiga, masalah dosis. Tanaman obat tetaplah obat yang memiliki batas toleransi dalam tubuh. Penggunaan yang berlebihan, meskipun alami, dapat membebani kerja ginjal dan hati.

Baca Juga Revolusi Keselamatan Atlet: Mengapa Aturan Hydration Break di Piala Dunia 2026 Jadi Penentu Nyawa di Lapangan Hijau
Revolusi Keselamatan Atlet: Mengapa Aturan Hydration Break di Piala Dunia 2026 Jadi Penentu Nyawa di Lapangan Hijau

Tips Memilih Jamu yang Berkualitas dan Aman Dikonsumsi

Agar masyarakat tidak “kegocek” atau tertipu oleh produk palsu, penting untuk mengetahui ciri-ciri jamu yang asli dan berkualitas. Jamu yang benar tidak akan memberikan efek instan yang drastis (cerces), karena cara kerjanya bersifat konstruktif dan holistik. Jika Anda menemukan jamu yang bisa menyembuhkan penyakit berat dalam hitungan jam, patut dicurigai adanya campuran Bahan Kimia Obat (BKO) yang berbahaya.

Pastikan produk jamu yang Anda beli telah memiliki izin edar dari BPOM. Cek label kemasan untuk melihat daftar bahan, tanggal kedaluwarsa, dan kode produksi. Bagi penggemar jamu gendong, pastikan penjual menjaga kebersihan botol dan menggunakan air matang dalam proses pembuatannya. Dengan menjaga standar kualitas ini, kita tidak hanya melindungi kesehatan pribadi, tetapi juga turut menjaga kelestarian budaya jamu agar tetap menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

Sebagai penutup, jamu adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Menghargai jamu berarti menghargai proses, menghargai alam, dan menghargai warisan leluhur. Dengan edukasi yang tepat dari sumber seperti SuaraInfo, diharapkan masyarakat semakin bijak dalam memanfaatkan kekayaan alam nusantara demi kualitas hidup yang lebih baik.

Baca Juga Ancaman Hantavirus di Samudra: Misteri Penularan Antarmanusia di Kapal Pesiar MV Hondius
Ancaman Hantavirus di Samudra: Misteri Penularan Antarmanusia di Kapal Pesiar MV Hondius
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *