Alarm Bahaya Kesehatan! Riset CISDI Ungkap Mayoritas Makanan Kemasan di Indonesia Masuk Kategori Merah Nutri-Level D

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
30 Apr 2026, 11:35 WIB
Alarm Bahaya Kesehatan! Riset CISDI Ungkap Mayoritas Makanan Kemasan di Indonesia Masuk Kategori Merah Nutri-Level D

SuaraInfo — Di balik deretan rak supermarket yang tertata rapi dengan kemasan warna-warni yang menggoda mata, tersimpan sebuah kenyataan pahit mengenai kualitas pangan masyarakat Indonesia. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) membongkar fakta mengejutkan: sembilan dari sepuluh makanan kemasan yang beredar di tanah air terbukti mengandung kadar gula, garam, dan lemak (GGL) yang melampaui batas aman kesehatan.

Temuan ini bukan sekadar angka statistik biasa. Ini adalah peringatan keras bagi publik dan pemangku kebijakan bahwa lingkungan pangan kita sedang tidak baik-baik saja. Berdasarkan analisis mendalam terhadap ribuan sampel produk, CISDI menemukan bahwa sebagian besar produk yang dikonsumsi masyarakat setiap hari justru menjadi pemicu utama meningkatnya risiko penyakit tidak menular di Indonesia.

Metodologi Riset: Membedah 8.077 Sampel di Kota-Kota Besar

Riset kolaboratif ini tidak main-main dalam pengumpulan datanya. Tim peneliti menyisir berbagai pusat perbelanjaan dan toko ritel di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Total sebanyak 8.077 sampel produk makanan kemasan dianalisis menggunakan Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models/NPM).

Baca Juga Misteri Perubahan Warna Kulit Menjadi Hitam Akibat Efek Samping Antibiotik: Sebuah Kasus Medis Langka
Misteri Perubahan Warna Kulit Menjadi Hitam Akibat Efek Samping Antibiotik: Sebuah Kasus Medis Langka

Studi ini dikerjakan bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) dari Universitas Airlangga. Melalui pengujian yang ketat, peneliti ingin melihat sejauh mana produk-produk yang menguasai pasar ini memenuhi standar nutrisi yang sehat bagi tubuh manusia. Sayangnya, hasilnya justru menunjukkan dominasi produk yang secara sistematis mendorong konsumsi tidak sehat di tengah masyarakat.

Dominasi Nutri-Level Kategori D: Mengapa Ini Mengkhawatirkan?

Dalam laporan resminya, SuaraInfo mencatat bahwa peneliti membandingkan temuan mereka dengan sistem penilaian Nutri-level. Sebagai informasi, Nutri-level adalah kebijakan pelabelan baru yang mengelompokkan produk pangan ke dalam level A (paling sehat), B, C, hingga D (paling tidak sehat). Hasilnya sangat kontras dan cukup mengintimidasi.

Lebih dari 60 persen, atau tepatnya 64,2 persen dari produk yang diteliti, masuk ke dalam kategori Nutri-Level D. Ini berarti mayoritas produk kemasan di Indonesia memiliki kandungan gula, garam, dan lemak yang sangat tinggi. Sementara itu, 11,4 persen lainnya berada di level C. Jika ditotal, sekitar 75,6 persen produk berada pada spektrum yang patut diwaspadai oleh konsumen.

Baca Juga Mengenal Kanker Limfoma Hodgkin: Belajar dari Perjuangan Jeje Adriel dan Pentingnya Deteksi Dini di Usia Muda
Mengenal Kanker Limfoma Hodgkin: Belajar dari Perjuangan Jeje Adriel dan Pentingnya Deteksi Dini di Usia Muda

Angka ini menunjukkan bahwa pilihan konsumen sangat terbatas untuk mendapatkan produk yang benar-benar sehat. Saat seseorang berjalan di lorong supermarket, kemungkinan besar barang yang mereka ambil adalah produk dengan label nutrisi kategori merah atau kuning tua, yang jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan merusak metabolisme tubuh.

Kritik Terhadap Ambang Batas Nutri-Level C

Salah satu poin krusial yang disorot oleh CISDI adalah persepsi masyarakat terhadap kategori Nutri-Level C. Meski secara teknis berada di bawah level D, produk dalam kategori C seringkali dianggap “cukup aman” atau netral oleh konsumen awam. Padahal, menurut Model Profil Gizi berbasis bukti, banyak produk di kategori C ini sebenarnya sudah melampaui batas aman GGL.

Trias Mahmudiono, Direktur CHeNECE sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, menekankan pentingnya ketepatan ambang batas dalam sebuah kebijakan. Menurutnya, jika standar yang ditetapkan terlalu longgar, maka kebijakan tersebut gagal melindungi masyarakat.

“Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektifnya suatu kebijakan. Jika terlalu longgar, banyak produk makanan tidak sehat yang tidak teridentifikasi dengan benar, sehingga masyarakat tetap terpapar risiko kesehatan tanpa mereka sadari,” ungkap Trias dalam laporan yang diterima SuaraInfo.

Baca Juga Bersih-Bersih Badan Gizi Nasional: Larangan Tegas Pegawai Jadi ‘Bos’ Dapur Makan Bergizi Gratis demi Jaga Integritas
Bersih-Bersih Badan Gizi Nasional: Larangan Tegas Pegawai Jadi ‘Bos’ Dapur Makan Bergizi Gratis demi Jaga Integritas

Bukan Hanya Soal Edukasi, Tapi Desain Sistem Pangan

Selama ini, narasi yang berkembang seringkali menyalahkan individu atas pilihan makanan yang buruk. Namun, Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI, mematahkan anggapan tersebut. Ia berargumen bahwa masalah ini bukan lagi sekadar soal kurangnya edukasi individu, melainkan kegagalan desain sistem pangan nasional.

“Temuan ini menegaskan bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang telah didominasi oleh produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi soal menyuruh orang untuk memilih dengan bijak, tetapi soal bagaimana sistem ini didesain agar produk sehat lebih mudah diakses daripada produk tidak sehat,” tegas Zulfiqar.

Lingkungan pangan yang toksik ini secara sistematis menggiring masyarakat untuk mengonsumsi makanan instan dan kemasan yang murah namun rendah gizi. Hal inilah yang menjadi motor penggerak ledakan angka obesitas di berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Ancaman Tersembunyi: Penyakit Tidak Menular dan Obesitas

Dampak dari dominasi makanan kategori D ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak adalah tiket utama menuju berbagai penyakit kronis. Hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hingga penyakit jantung kini tidak lagi hanya menyerang kelompok lansia, tetapi mulai merambah ke usia produktif.

Baca Juga Rahasia Umur Panjang ala Denmark: Menkes Budi Gunadi Ungkap Obesitas Sebagai Penghambat Utama Harapan Hidup
Rahasia Umur Panjang ala Denmark: Menkes Budi Gunadi Ungkap Obesitas Sebagai Penghambat Utama Harapan Hidup

Data menunjukkan bahwa beban ekonomi negara akibat penyakit tidak menular terus meningkat setiap tahunnya. Jika lingkungan pangan tidak segera dibenahi melalui regulasi yang ketat—seperti penerapan cukai minuman berpemanis atau pengetatan label nutrisi—maka visi Indonesia Emas 2045 terancam oleh krisis kesehatan masyarakat yang masif.

Langkah Kedepan: Perlunya Reformasi Regulasi Pangan

Menanggapi situasi darurat ini, para ahli mendorong pemerintah untuk lebih berani dalam mengatur industri pangan. Implementasi label Nutri-Level yang lebih transparan dan berbasis data kesehatan yang akurat adalah langkah awal yang mutlak diperlukan. Selain itu, diperlukan kebijakan pendukung untuk menekan ketersediaan produk tinggi GGL di pasar terbuka.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih kritis dalam membaca tabel informasi nilai gizi sebelum membeli produk. Memahami bahwa label “sehat” atau kemasan yang menarik tidak menjamin kandungan di dalamnya aman bagi tubuh adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan keluarga secara mandiri.

Dengan adanya riset dari CISDI ini, diharapkan ada perubahan nyata dalam lanskap kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Jangan sampai kemudahan mendapatkan makanan kemasan saat ini harus dibayar mahal dengan hilangnya kualitas hidup di masa depan akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Baca Juga Mata Merah Usai Melahirkan: Fenomena Pecah Pembuluh Darah dan Mitos Mengejan yang Perlu Ibu Tahu
Mata Merah Usai Melahirkan: Fenomena Pecah Pembuluh Darah dan Mitos Mengejan yang Perlu Ibu Tahu

SuaraInfo akan terus mengawal isu kesehatan dan kebijakan pangan ini untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat demi gaya hidup yang lebih baik dan berkualitas.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *