Rahasia di Balik Air Liur: Studi Ungkap Hubungan Erat Bakteri Mulut dengan Risiko Kanker Lambung

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
17 Mei 2026, 09:25 WIB
Rahasia di Balik Air Liur: Studi Ungkap Hubungan Erat Bakteri Mulut dengan Risiko Kanker Lambung

SuaraInfo — Selama ini, menjaga kesehatan gigi dan mulut sering kali dianggap hanya sebatas upaya untuk mendapatkan senyum yang menawan atau sekadar menghindari bau mulut yang mengganggu kepercayaan diri. Namun, penelitian medis terbaru membuka tabir yang jauh lebih serius dan mengejutkan. Ternyata, ekosistem kecil yang ada di dalam rongga mulut kita memiliki kaitan yang sangat erat dengan kondisi kesehatan organ dalam, bahkan berkaitan langsung dengan risiko penyakit mematikan seperti kanker lambung.

Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Medicine baru-baru ini menyoroti bagaimana mikrobioma atau kumpulan mikroorganisme di dalam mulut dapat bermigrasi dan memengaruhi perkembangan sel kanker di bagian tubuh lain. Temuan ini tidak hanya memberikan perspektif baru bagi dunia medis, tetapi juga menjadi peringatan bagi kita semua bahwa kebersihan mulut adalah gerbang utama menuju kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Menelisik Studi Mikrobioma dari Shanghai

Penelitian ambisius ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong yang bekerja sama dengan BGI Genomics. Mereka melakukan analisis mendalam terhadap 404 sampel yang diambil dari pasien di Tiongkok. Fokus utama studi ini adalah membandingkan profil mikrobioma antara pasien yang menderita kanker lambung dengan mereka yang didiagnosis menderita gastritis kronis.

Baca Juga IDAI Ingatkan Publik Tak Terjebak Kepanikan Hantavirus, Fokus Penanganan Campak dan Difteri Lebih Mendesak
IDAI Ingatkan Publik Tak Terjebak Kepanikan Hantavirus, Fokus Penanganan Campak dan Difteri Lebih Mendesak

Para peneliti tidak hanya memeriksa satu titik, melainkan melakukan pemetaan menyeluruh terhadap mikrobioma usus yang diambil dari feses, serta mikrobioma mulut yang berasal dari air liur dan kerokan lidah. Hasilnya sangat signifikan; terdapat perbedaan yang mencolok pada komposisi bakteri usus pengidap kanker lambung dibandingkan dengan individu yang sehat atau hanya menderita peradangan lambung biasa.

Ditemukan sedikitnya 28 spesies bakteri usus yang berbeda pada pasien kanker. Menariknya, sebagian besar dari bakteri tersebut bukanlah penghuni asli saluran pencernaan bawah, melainkan bakteri yang biasanya ditemukan berkoloni di dalam mulut. Hal ini menunjukkan adanya pola perpindahan bakteri yang tidak lazim dari rongga atas menuju sistem pencernaan yang lebih dalam.

Migrasi Bakteri: Dari Mulut Menuju Perut

Bagaimana mungkin bakteri yang seharusnya berada di mulut bisa sampai ke lambung dan memicu masalah serius? Studi ini mengungkap bahwa sebanyak 20 spesies bakteri oral-usus ditemukan secara konsisten, baik dalam sampel air liur maupun tinja pasien. Keberadaannya jauh lebih umum dan dominan pada mereka yang sedang berjuang melawan keganasan sel di lambung.

Baca Juga Waspada! BPOM Bongkar Peredaran Obat Batuk Palsu dan Cairan Sedatif Berbahaya yang Mengancam Nyawa
Waspada! BPOM Bongkar Peredaran Obat Batuk Palsu dan Cairan Sedatif Berbahaya yang Mengancam Nyawa

Salah satu aktor utama dalam temuan ini adalah bakteri jenis Streptococcus. Bagi orang awam, bakteri ini mungkin lebih dikenal sebagai penyebab radang tenggorokan. Namun, dalam konteks ini, Streptococcus bersama dengan Lactobacillus dan bakteri asam laktat lainnya, tampak memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel kanker. Peneliti menemukan bahwa profil genetik bakteri oral pada seorang pasien hampir identik dengan bakteri yang ditemukan di usus orang yang sama, memperkuat teori terjadinya penularan internal atau migrasi bakteri.

Meskipun analisis ini belum secara absolut membuktikan bahwa bakteri mulut adalah penyebab langsung kanker, hubungan kuat yang ditemukan menjadi indikator penting. Dr. Brian Slomovitz, seorang Direktur Onkologi Ginekologi ternama, menjelaskan bahwa mikrobioma di satu area tubuh memiliki kemampuan untuk bermigrasi dan memengaruhi lingkungan mikro di area lain, yang pada gilirannya dapat mendukung pertumbuhan kanker.

Peradangan dan Kerusakan Mukosa Lambung

Salah satu alasan mengapa bakteri mulut dapat berkembang biak dengan bebas di lambung berkaitan dengan kondisi inflamasi atau peradangan. Selama ini, infeksi bakteri H. pylori telah dikenal luas sebagai pemicu utama kanker lambung. Infeksi ini menyebabkan peradangan kronis yang merusak sel mukosa atau lapisan pelindung lambung.

Baca Juga Awas Bahaya di Balik Nikmatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bisa Jadi Racun Tersembunyi?
Awas Bahaya di Balik Nikmatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bisa Jadi Racun Tersembunyi?

Ketika lapisan pelindung ini rusak, lingkungan kimiawi di dalam lambung berubah, menciptakan celah bagi bakteri penghasil asam laktat untuk berkoloni dan berkembang biak. Inilah yang menjelaskan mengapa pada beberapa kasus, risiko kanker tetap ada atau bahkan terus berkembang meskipun infeksi H. pylori telah diobati. Bakteri-bakteri “pendatang” dari mulut inilah yang kemudian mengambil alih dan memperparah kondisi jaringan yang sudah rapuh.

Deteksi Dini Melalui Air Liur: Masa Depan Diagnostik

Salah satu kabar paling menggembirakan dari studi ini adalah potensi pemanfaatan air liur sebagai alat deteksi dini kanker. Selama ini, prosedur untuk mendiagnosis kanker lambung sering kali melibatkan tindakan invasif seperti endoskopi yang mungkin membuat pasien merasa tidak nyaman.

Jika pola bakteri dalam air liur dapat dipetakan secara akurat untuk mengidentifikasi risiko kanker, maka di masa depan, skrining dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan cepat. Dr. Slomovitz optimis bahwa dengan memahami perubahan mikrobioma ini, tim medis dapat mengidentifikasi penyakit bahkan pada tahap prakanker. Hal ini tentu akan meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan secara drastis.

Baca Juga Dilema Masa Depan Negeri Sakura: Mengapa Lebih dari 60 Persen Wanita Muda Jepang Memilih untuk Tidak Memiliki Anak?
Dilema Masa Depan Negeri Sakura: Mengapa Lebih dari 60 Persen Wanita Muda Jepang Memilih untuk Tidak Memiliki Anak?

“Mungkin ke depannya kita akan mengetahui bahwa dengan mengubah atau menyeimbangkan kembali mikrobioma, kita dapat membantu mengobati kanker dengan lebih baik, baik melalui kombinasi dengan imunoterapi maupun kemoterapi,” ungkapnya. Namun, ia juga menekankan bahwa meski landasan penelitian ini sudah kuat, penerapan dalam praktik klinis sehari-hari masih memerlukan riset lanjutan yang lebih mendalam.

Langkah Preventif: Menjaga Keseimbangan Mikrobioma

Lantas, apa yang bisa kita lakukan saat ini? Mengingat adanya hubungan erat antara kesehatan mulut dan risiko kanker lambung, langkah preventif yang paling logis adalah dengan lebih disiplin dalam merawat kebersihan rongga mulut. Berikut adalah beberapa hal yang bisa diterapkan:

  • Rutin menyikat gigi minimal dua kali sehari dan menggunakan benang gigi (flossing) untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi.
  • Membersihkan lidah secara teratur, karena lidah merupakan salah satu tempat berkumpulnya bakteri oral yang paling padat.
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali untuk mendeteksi adanya infeksi atau peradangan gusi (gingivitis).
  • Mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan probiotik untuk menjaga keseimbangan bakteri baik di seluruh saluran pencernaan.
  • Menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih yang dapat merusak keseimbangan mikrobioma alami mulut.

Kesimpulannya, tubuh kita adalah sebuah ekosistem yang saling terhubung. Apa yang terjadi di mulut kita tidak berhenti di sana, melainkan dapat berdampak hingga ke sistem organ yang paling dalam. Dengan menjaga gaya hidup sehat dan kebersihan diri, kita tidak hanya menjaga penampilan, tetapi juga membentengi tubuh dari ancaman penyakit serius seperti kanker lambung.

Baca Juga Strategi Jitu Menjaga Kesehatan Mental Gen Z: Seni Journaling dan Kekuatan Napas ala Tsamara Fahrana
Strategi Jitu Menjaga Kesehatan Mental Gen Z: Seni Journaling dan Kekuatan Napas ala Tsamara Fahrana

Meskipun dunia medis masih terus berupaya menyempurnakan temuan ini, kesadaran akan pentingnya mikrobioma yang sehat harus dimulai dari sekarang. Jangan abaikan nyeri kecil di gusi atau peradangan di mulut, karena bisa jadi itu adalah sinyal awal bagi kesehatan lambung Anda di masa depan.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *